Kontainer Langka Picu Kenaikan Biaya Pengiriman, Eksportir dan Petani Australia Merugi

Ilustrasi tumpukan kontainer ekspor impor (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 7 Oktober 2021 | 13:00 WIB

Sariagri - Masalah logistik dalam kegiatan ekspor ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di berbagai negara di dunia, termasuk Australia.

Dilansir dari ABC News, petani dan eksportir di Australia tengah berjuang menjual produk mereka ke luar negeri di tengah melonjaknya biaya pengirimanan.

Federasi Petani National (NFF) Australia mengklaim biaya pengiriman rata-rata untuk eksportir telah naik hingga enam kali lipat dalam 18 bulan terakhir. Manajer Perdagangan NFF, Ash Salardini mengatakan tingginya biaya itu membuat petani kurang kompetitif.

“Pada akhirnya, petani dan konsumen harus membayar,” ujar Salardini.

Salardini mengungkapkan lockdown karena COVID-19 di Cina telah menyebabkan kekurangan kontainer secara global.

“Banyak kontainer berakhir di tempat yang tidak seharusnya. Ada cukup banyak kontainer di dunia, hanya saja mereka semua berada di tempat yang salah. Saat ini dibutuhkan enam hingga delapan minggu untuk membawa kontainer ke tempat yang seharusnya,” ungkap Salardini.

Pakar Logistik Emily Jackman menyebutkan beberapa faktor pemicu kenaikan biaya pengiriman di antaranya adanya sejumlah jalur pelayaran yang mempercepat rencana penghapusan kontainer tua dan stimulus pemerintah dalam penanganan COVID-19.

Jackman yang sekaligus Direktur Pelaksana di Kenter International Logistics baru-baru ini telah melobi Menteri Perdagangan Australia Dan Tehan agar subsidi angkutan udara darurat yang ditawarkan kepada eksportir Australia diperluas dengan mencakup angkutan laut.

Paul Zalai dari Freight and Trade Alliance memperkirakan biaya pengiriman akan terus meningkat karena eksportir Australia berjuang menarik perusahaan pelayaran internasional yang biasanya berlayar antara Cina dan AS atau Eropa.

“Saya tidak akan terkejut jika tarif kami meningkat sebab ada keterbatasan peralatan kontainer, ada keterbatasan kapal,” kata Zalai.

Sementara itu, pengolah daging domba terbesar di Australia, Roger Fletcher mengatakan bisnisnya kehilangan pangsa pasar karena pengiriman terganggu dan “bottle neck” yang disebabkan penundaan kontainer. Salah satu bisnisnya di Dubbo yang biasanya mengekspor daging, kulit dan biji-bijian ke puluhan pasar di seluruh dunia juga terkena imbasnya.

Baca Juga: Kontainer Langka Picu Kenaikan Biaya Pengiriman, Eksportir dan Petani Australia Merugi
Dianggap Sebelah Mata, Buah Jengkol Masuk Deretan Ekspor Pertanian ke Jepang

“Biaya kami sudah membengkak. Semuanya ada tanggal kadaluwarsa dan habis. Ini kerugian besar secara finansial, tapi itu bukan masalah sebenarnya, kami mengecewakan pelanggan kami,” kata Fletcher.

Kenaikan biaya pengiriman internasional dinilai menjadi penghambat pertumbuhan industri pertanian Australia yang ditargetkan tumbuh hingga 73 miliar dolar AS tahun ini.

Video terkait:

 

Video Terkait